Ayah

Sore ini, langit senja dengan gagahnya terbentang berhiaskan warna-warna jingganya. Sebentuk karya Tuhan yang begitu aku kagumi keindahannya.

Aku sedang merindukan sosok lelaki yang sudah delapan bulan ini tak pernah lagi ku jumpai raganya. Hanya nama beserta segala kenangannya-lah yang masih tetap hidup dalam hati dan pikiran ini.

Sosok lelaki yang kedudukannya tak akan pernah tergantikan oleh apapun dan siapapun.

Ialah lelaki yang darahnya ikut mengalir dalam tubuh ini.

Apa kabar Pak Kumisku?

Semoga kau baik-baik saja di atas sana.

Aku yakin kau banyak bertemu dengan bidadari-bidadari surga tentunya.

Tapi pasti tak ada yang secantik ibu, bukan?

Aku tahu, aku belum sempat membahagiakanmu.

Begitu cepatnya Tuhan membawamu pulang ke hadapan-Nya.

Aku yakin, Tuhan begitu mencintaimu.

Aku pun di sini mencintaimu, Ayah.

Ayah..

Kaulah satu-satunya lelaki yang tak pernah menyakitiku.

Yang dengan tulus menyayangiku tanpa pamrih.

Yang rela mengorbankan segalanya demi aku, putri kecilmu.

Maafkan aku, Ayah.

Maafkan aku jika sering membantah perkataanmu.

Sungguh, aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu.

Aku paling takut jika melihat kau marah.

Kau yang selalu memasang raut wajah tegas dan berwibawa, bahkan disaat kau merasakan beban yang teramat besar.

***

Aku masih ingat saat itu. Saat-saat  terakhir sebelum malaikat menjemputmu.

Kau terbaring dengan menahan segala kesakitan tanpa mampu berucap dan menatap apapun.

Tapi aku yakin, kau masih mampu mendengarku, mampu mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang kulantunkan untukmu.

Mampu mendengarku saat mengatakan, “Aku mencintaimu, Ayah”.

Ya, kau pasti mendengarnya,kan?

Air mata yang mengalir dari sudut matamu mewakili apa yang ingin kau katakan.

Banyak alat-alat medis yang terpasang pada tubuhmu, untuk membantu agar kau mampu bertahan.

Tapi Tuhan ingin bertemu denganmu secepatnya.

Tepat 24 jam kau tak sadarkan diri hingga akhirnya kau menghembuskan nafas terakhirmu.

Itu adalah saat-saat terberat, aku harus merelakan seseorang yang amat sangat berarti untuk pergi selamanya.

***

Saat ini, aku hanya  berharap dapat bertemu denganmu, walau hanya dalam dalam mimpi saja.

Ingin sekali rasanya aku memeluk tubuh hangatmu, berbicara mengenai hal-hal apa saja.

Aku merindukanmu, Ayah. Sungguh.

Apakah kau di sana pun merindukan aku?

Seperti aku yang selalu merindukanmu disini.

***

Ayah, tahukah kau?

Aku sering kali iri melihat anak-anak lain bersama ayahnya, diantar jemput oleh ayahnya. Bercanda tawa bersama ayahnya. Aku iri.

Dulu kita juga sering seperti itu. Kau yang sering menjemputku ketika pulang dari kantor, tak peduli cuaca di luar sedang hujan. Kau yang dengan setia menunggu di ruang tamu, menunggu kepulanganku yang sedang bepergian dengan teman-teman.

Takkan ada yang mampu menggantikanmu Ayah, siapapun itu.

Kau tetap lelaki paling hebat, lelaki paling tampan dalam hidup ini.

Ayah..

Aku mencintaimu dengan teramat sangat.

Terima kasih untuk segala sesuatu yang telah kau berikan selama ini.

Maafkan aku yang belum mampu bahkan tak mampu untuk membalasnya.

Jaga dirimu baik-baik di Surga yaaa…

Ayah, datanglah ke mimpiku malam ini.

Masih banyak hal yang ingin ku ceritakan kepadamu.

Salam Rindu,

Putri Kecilmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s