Seperti Bunga Abadi

“Ibarat bunga di pekarangan yang dibiarkan terlantar tanpa diberi pupuk dan air, perlahan akan layu lalu mati.”

Sama halnya dengan perasaan ini yang terus menerus diabaikan, perlahanpun akan mati digerogoti waktu.

Saat ini aku memilih diam, diam dan bungkam. Bukan karena aku takut berbicara tapi aku lebih takut jika tak didengarkan. Bosan, sesungguhnya aku bosan dengan sifatmu yang terus dan terus seperti itu. Aku tak tahu harus berbuat seperti apalagi untuk membuat lebih bisa menghargai keberadaanku. Aku rasa kau pun tak pernah peduli bahkan tak pernah menganggap adanya aku di sini.

Ini menyakitkan, sungguh.

Di saat aku mencoba untuk beranjak, dengan tiba-tiba kau datang dan menahanku. Tapi lagi-lagi kau sendiri yang pergi dan membiarkanku menanti (lagi).

Tidakkah kau berpikir, berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk menunggumu?

Bukan! Bukannya aku mulai memperhitungkan semuanya, aku hanya ingin kau menyadari bahwa menunggu adalah sesuatu yang sangat membosankan.

Jujur, aku benci menunggu. Tapi entah mengapa aku tetap melakukannya–untukmu.

Aku hanya berharap, semoga penantianku ini takkan sia-sia. Semoga secepatnya kau datang menyirami perasaan ini dengan cinta yang sesungguhnya agar rasa ini kembali merekah dan tak lantas mati.

Atau jika tidak, semoga rasaku ini bisa seperti bunga abadi yang takkan pernah mati–untukmu.

img_20111214182438_4ee887769daf1  source: google.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s