Tuhan mau kita belajar

“Pilihlah yang Tuhan pilihkan untukmu. Jangan memaksa Tuhan untuk memilih pilihanmu.”

Itu salah satu kutipan milik Zarry Hendrik yang gue rasa ada benernya. Terkadang kita maksa Tuhan untuk mengabulkan apa yang kita mau, tanpa tau apa itu baik untuk kita atau enggak? Dan setelah Tuhan mengabulkan apa yang kita mau, baru kita sadar kalau ternyata itu cuma bikin kita kecewa. Tapi Tuhan tetep baik, dari situ kita bisa belajar, belajar untuk nggak memaksakan kehendak sendiri, dan bisa lebih lapang dada untuk menerima segala sesuatunya. Tuhan selalu punya alasan saat mengabulkan atau tidak mengabulkannya permintaan kita. Karena Tuhan tau lebih dari yang kita tau.

Lagi-lagi gue dikasih pelajaran dari apa yang terjadi dalam hidup gue. Ada orang-orang yang sengaja Tuhan hadirkan dalam hidup kita untuk kita belajar atau memang untuk tinggal bersama kita. Tapi sepertinya, Tuhan belum mau ngasih seseorang untuk tinggal bersama gue, Tuhan masih mau gue belajar, belajar untuk jadi pribadi yang lebih kuat lagi.

Sekitar satu tahun belakangan ini, gue selalu berdoa dan meminta agar Tuhan mau membersamakan gue dengan seorang yang gue mau. Sampai akhirmya gue merasa kalau Tuhan udah mengabulkan doa gue, ya, akhirnya gue bisa menjalin hubungan dengan orang tersebut. Bahagia? Ya, gue merasa bahagia. Bahagia kenapa? Karena gue udah berhasil jadi pacarnya dia.

Tapi semua itu nggak seperti yang gue bayangkan sebelumnya, nggak sebahagia yang gue harapkan. Lima bulan gue menjalin hubungan sama dia, dan itu pun LDR. Bulan pertama aja gue udah merasakan hubungan yang nggak sehat, komunikasi nggak intens, boro-boro mau ngasih kabar tiap waktu, bisa nge-chat gue sehari sekali aja udah mukjizat banget. Karena masih awal-awal pacaran, gue masih positive thinnking aja, mungkin dia sibuk. Ya, sibuk dengan yang lain. Hahaaa…

Namanya juga fase jatuh cinta, banyakan begonya daripada pinternya. Segala sifatnya masih gue maklumi, dia mau ngasih kabar atau enggak masa bodo. Pernah sekali gue telpon dia karena sikap dia yang cuek abis ke gue, eh, gue malah dimarah-marahin. Begonya gue, gue nangis!! Dari kejadian itu gue nggak ngubungin dia lagi, sama sekali. Gue kecewa, sob! Asli kecewa banget. Sebulan berlalu, tanpa gue tau kabar dia sedikit pun.

Setelah sebulan nggak contact, tiba-tiba dia nge-chat gue lagi dengan merasa tak berdosa. Berhubung emang gue juga masih nungguin dia, ya jadilah gue ladenin lagi, hehee.. Untuk yang kali ini ada sedikit perubahan dari dia, dia jadi lebih sering ngasih kabar, lebih sering nelponin gue, pokonya sikapnya lebih manis dari sebelumnya. Gue bersyukur dong, berarti Tuhan kabulin doa gue.

Singkat cerita, sikap manisnya itu pun nggak berlangsung lama, cuma bertahan tiga bulan. Tiga bulan itu, bayi dalam kandungan aja belom di kasih roh sama Tuhan. Sampai akhirnya, gue bener-bener ngerasa capek. Gue mau nyerah tapi gue mikir lagi, “masa sih seorang gue mau nyerah?”. Kurang lebih seminggu, waktu yang gue butuhkan untuk mikirin kelanjutan hubungan ini, gue cerita sama orang-orang yang gue percaya, dan akhirnya gue memutuskan untuk tidak menyerah. Tapi, gue memilih untuk berhenti melanjutkan hubungan ini.

10 Agustus 2015, gue putus ama dia. Keesokan harinya, dia udah pasang nama cewek baru dong di profile bbm-nya. Gila nggak coba?? Parah!! Ini parah banget. Seketika itu juga gue delcont contact-nya, semua, apapun yang berhubungan ama dia, gua delete. Gue merasa terkhianati aja selama ini, sakit? Banget. Kecewa? Di ambang batas. Sedih? Nggak. Bahkan sesakitnya gue pun, gue udah nggak sanggup atau malah nggak pengen nangis lagi. Karena air mata gue bakal terbuang sia-sia untuk hal yang sia-sia pula. Mubadzir. Ingat! Mubadzir itu sifatnya setan dan gue bukan setan.

Sekarang gue jomlo lagi, tapi gue happy. Gue pengen lebih kenal sama diri gue sendiri, mencari jati diri yang sesungguhnya. Hidup itu nggak harus melulu tentang pacar, toh? Banyak hal yang bisa bikin lo bahagia, tergantung gimana cara lo memandang dan menyikapinya. Mari perbaiki diri, agar kelak Tuhan memberi yang terbaik pula. Kan kata Tuhan, “Wanita yang baik untuk lelaki yang baik, begitupun sebaliknya”. Oke? Semangat!! ^^

Ps: “Learn to forgive. Also learn that not everyone deserves your trust.”

Advertisements

2 thoughts on “Tuhan mau kita belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s