Pak Raden Sang Pendongeng

Pagi ini gue dengar kabar bahwa Pak Raden Sang Pendongeng yang mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak Indonesia telah berpulang ke rahmatullah. Banyak berita yang gue baca dari timeline twitter gue, gue memang nggak banyak tau tentang beliau, yang gue tau beliau adalah sosok yang telah menciptakan karakter Unyil, dkk, beliau mempunyai suara, tertawa dan kumis yang khas, entah kenapa ketika gue baca artikel dan melihat video yang menceritakan tentang kehidupan dan kecintaan beliau terhadap anak-anak gue merasa sedih, bahkan nangis. Guenya aja yang baperan kali, ya? tapi gue emang beneran sedih sih.

Ini salah satu postingan tentang beliau yang gue baca pagi ini, dan berhasil bikin gue nangis!

P. Chusnato Sukiman

NONTON PINOCCHIO, NONTON DIRINYA

Dia sangat terkesan dengan film Pinocchio (1940) yang pernah dia tonton puluhan tahun lalu. Film garapan Disney itu hanya ia tonton sekali, dan katanya, “Nempel sampai sekarang, dan membuat saya jadi begini…”

Dia meminta saya mencarikan DVD-nya, tentu setelah muter-muter sekian bulan di bursa keping bajakan tak ada tanda-tanda yang menujukan hasil.

“Film itu merubah hidup saya. Karakter tokohnya, pewarnaannya, story telling-nya… semua dapat nilai sempurna,” kenangnya.

Sampai akhirnya seorang rekan kartunis, Thomdean, meminjaminya dalam format CD – original. Saat saya bawakan keeping itu, wajahnya mendadak cerah.

Saat itu padahal dia sakit. Dan saya sedang diserang flu berat dan ginjal sedang sedikit ngambek. Dari asistennya yang setiap hari ikutan membantu Pak Raden saya diberitahu bahwa dia baru saja menolak kegiatan ke luar kota, dan hasilnya kami ada waktu untuk nonton bareng di rumahnya.

Kami berdua menonton film animasi berdurasi 88 menit itu tanpa kacang goreng atau soda gembira. Menit pertama dia tertegun. Sempat ada keheningan, tapi itu tak berjalan lama. Lalu beberapa menit kemudian, matanya membelalak. Dia beranjak dari kursinya.

Saya biarkan saja dia memeras kenangan lamanya tentang film itu. Dia ikutan menyanyi, lalu menyanyi lagi, dan berdiri mengambil posisi terbaik untuk suara baritonnya. Dia menyanyikan lagu “Hi-Diddle-Dee-Dee” dan lagu paling kemilau di soundtrack film itu, “When You Wish Upon the Star”, yang membuat rumah itu bagai gedung opera. Hmmm…

Saya ingat boneka Unyil ketika menyaksikan Pak Raden menyanyi. Lalu saya ambil boneka itu dari dalam rak simpan boneka. Suasana dalam film tersebut tak berbeda nyata dalam dunia nyata di penglihatan saya.

Rumah yang bila diibaratkan seperti bengkel pembuatan boneka dan lukisan. Berantakan. Penuh cat, serakan kertas di mana-mana, kanvas, seperangkat gamelan Jawa, peralatan pembuatan boneka. Semua ditata seadanya.

Tak ada bunga, tak ada taplak meja.

“Dulu pernah saya taruh vas bunga dengan bunga plastik. Tapi kucing-kucing di sini malah asik main dan vas sering jatuh. Pecah….” Katanya suatu hari.

Seorang lelaki tua yang di samping saya asik bercerita ulang soal film itu semakin tenggelam dalam masa lalunya. Tak ada nyonya rumah di sana. Atau tak ada partner kerja yang bisa menjadi temannya di masa-masa sulit seperti ini.

Ada dua pekerja yang sehari-hari membantunya. Pak Nanang, yang biasa mengurusi rumah itu punya jadwal wajib mudik ke Bogor setiap Sabtu, Minggu dan Senin. Sedangkan yang seorang lagi, Pak Maman, asistennya dalam urusan pembuatan boneka juga begitu, setiap akhir pekan pulang ke Tanggerang.

Pak Raden hidup melajang hingga masa sepuhnya, sendiri. Tapi sekaligus mencintai dunia anak-anak, dan, nyatanya, memang ia abdikan seluruh hidupnya untuk dunia anak-anak.

Saya melihat seorang Geppetto hidup di sana.

* Jakarta, 10 September 2010

DIA BERTANYA SAYA MENJAWAB

Pak Raden: Saya lihat kamu sudah sehat sekali. Apa betul begitu?

Saya: Hamdallah, pak. Kan kita selalu mendoakan.

Pak Raden: Doa saya lain caranya…

Saya: Bagaimana pak? Masih kaya dulu, semedi dan yoga telentang?

Pak Raden: Sudah tidak kuat lagi, doanya sambil ngelus-ngelus Kacung (kucing yang paling disayang dari empat kucing peliharaannya)

Saya : Kacung masih bangunin pak Raden setiap jam 6 pagi, ya?

Pak Raden: Oh, itu selalu. Dia mahluk manis yang membuktikan bahwa kucing juga bisa setia sama majikannya… Ternyata kesetiaan itu hadiah paling berharga di dunia. Meski ini kucing paling galak dan banyak maunya, semuanya lunas, sebab kesetiaannya luar biasa.

Saya: Mungkin karena dia sering pak Raden elus-elus kali ya pak…?

Pak Raden: Saya katakan, “Kacung, doakan saya sehat ya… Saya masih mau melukis dan mendongeng….” Saya ciumin palanya, saya bisikin di telinganya…

Saya : (diam)

Pak Raden: Saya elus-elus bulunya, saya cuma punya dia. Nanti kalau saya meninggal tidak akan banyak yang menangisi saya. Tapi Kacung pasti sedih, nyariin saya entah di mana. Makannya gimana nanti ya? Siapa yang belikan ikan di pasar?

Saya: (diam, mencoba tersenyum, tapi tak bisa)

Pak Raden: Apakabar kamu sekarang nak Chus? Cerita tentang kesulitannya nanti saja saya masih perlu istirahat.

Saya: (nyoba tersenyum. Saya terbiasa mendengar pertanyaan dan pernyataan yang berulang-ulang darinya). Sehat Pak Raden. Selalu merayakan hari saya dengan kata sehat, itu dulu saja pak…

Pak Raden: Kalau kamu tua nanti, usahakan jangan sendiri seperti saya ya…

Saya: (diam sejenak). Saya punya punya teman istimewa kok, Pak Raden aja yang enggak tau sih… (tertawa)

Pak Raden: Pak Raden juga punya Unyil dan ribuan cucu di luar sana. Ribuan cucu yang pernah mendengar dongengan saya… Saya tidak mau mereka tahu kalau saya sakit, apalagi jika nanti saya meninggal. Biar saja mereka mengenal saya dari dongeng saya saja…

Saya (diam).

* Jakarta, 6 Mei 2010

BAU TANAH, BAU PESING, BAU APA ITU?

Bulan April silam, menjadi hari yang berat untuk saya, ketika saya harus menjalani proses terapi. Yang terberat bukan saja soal biaya, tapi, harus jujur mengatakan saya sedang tidak sehat benar (untuk tidak mengatakan saya sakit).

Beberapa minggu kemudian saya sempat singgah sesekali ke rumah Pak Raden yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Kami berdua tengah berbohong. Dan kami sadar tengah menjalankan peran itu dengan buruk.

Dia melihat saya sedikit lemas dan tak banyak bicara. Dia bertanya, “Kamu ndak banyak ngoceh lagi dan mata kamu saja yang bicara…” Saya diam. Sebab, saya juga melihat dia sangat pucat, saya melihat wajahnya bagai bayi. “Pak Raden agak bersihan,” bisik saya dalam hati.

Baru setelah dokter mengetuk palu vonis, Pak Raden harus beristirahat total, ia menghubungi saya. Katanya, “ini pelajaran sangat berharga, saya tidak ingin lagi ada kegiatan di luar rumah. Saya sudah tua, shooting itu terlalu berat untuk saya. Duit yang saya dapatkan malah habis semua untuk berobat. Bahkan untuk membeli kusri roda saja saya tidak sanggup lagi…“

***

Sebenarnya, duduk menemani Pak Raden yang tergolek di ranjang kamarnya bukan perkara berat. Saya sudah sangat terbiasa dengan aroma kucing, bau pesing, bau kotoran kucing yang nyaris di setiap sudut rumahnya.

Saya juga paham suasana berantakan, sumpek, apek, dan sejenisnya, untuk tidak mengatakan bau tak sedap. Justru itulah Pak Raden, menurut saya. Jika kali pertama kunjungan saya ke rumahnya sempat membuat saya merasa jera, maka setelah hampir dua tahun saya malah jadi terbiasa. (Kadang sering merindukan suasana itu jika pulang kampung terlalu lama. )

Di bawah kolong tempat tidurnya di kamar berserakan tikar, obat nyamuk bakar yang masih menyisakan asap terakhirnya, di dekat kaki kiri saya ada sebuah ember. Dari baunya saya tahu itu adalah ember yang berisi air yang berisi kencing kucing kesayangannya, Kacung.

Satu ember lainnya saya sulit menduga apa isinya. Saya sudah terbiasa dengan bau kucing, berikut pipisnya, beserta kotorannya, berikut sisa bulunya yang membuat saya menderita alergi. Tapi ember itu menyebar aroma yang berbeda. Tetap menyengat, tapi bukan bau kucing, bisik saya.

Ember itu lebih besar. Isi airnya lebih banyak dari ember satunya lagi. Saya penasaran, sebab, setelah dua tahun, saya belajar ilmu bau-bauan di rumah Pak Raden, kali ini saya belum tahu persis apa isi ember itu.

Melihat saya meneliti isi ember itu Pak Paden beranjak dan memanggil asistennya.

Itu bukan bau tanah, katanya melanjut, itu bau saya.

O, kata saya dalam hati.

“Kamu pernah tahu bagaimana kalau orang tua yang sudah tua itu punya tanda-tanda kematian?” tanyanya. Saya menggeleng. “Baunya berbeda, katanya bau tanah. Saya sendiri tidak tahu apa itu bau tanah. Apakah kamu sudah mencium bau itu di sini?” tanya dia lagi.

Saya menggeleng lagi. Dan cuma bisa diam. Lalu dia mencari dongeng pendek soal desa yang harum karena kematian seorang kakek. Terus terang, saya ingin menolak, tapi, suara saya tidak berhasil keluar.

Sepanjang cerita delapan menit itu, dia bercerita pelan, kadang diselingi batuk dan suara nafas yang berat. Sepanjang dongeng itu, saya hanya bisa diam. Dan kali ini, dia tak sanggup menyelesaikan dongengnya.

* Jakarta 30 April 2010

atau kalian bisa lihat video ini >> https://youtu.be/8TbM8geG-ok
“Orang itu kalau mau berkarya harus dimulai dengan cinta.” – Pak Raden
Selamat jalan Pak Raden, terima kasih telah mengisi masa kecil kami. Semoga segala dedikasimu takkan pernah sia-sia, dan akan selalu terkenang sepanjang masa.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s