Sampai Kapan?

Sosok lelaki yang kukenal dua tahun silam. Ia yang selalu penuh dengan tawa, kadang dewasa kadang pula seperti bocah yang selalu ingin dimanja.

Sosok lelaki menyebalkan yang selalu kurindukan.

Memasuki tahun kedua, hubungan yang kami jalani tak selalu baik-baik saja, dan takkan pernah baik. Hubungan yang tak seharusnya dijalani, tak seharusnya ada.

Sudah beberapa hari ini ada perasaan yang berbeda tiap kali aku mengingat dirinya perasaan tidak suka, benci, emosi yang seketika itu juga ingin meledak-ledak.

Seminggu yang lalu kami masih baik-baik saja, pergi bersama, bercanda tawa, akupun masih dengan senang hati melingkarkan lengan ditubuhnya,  begitupun dengannya yang masih mendekap hangat tubuhku dengan penuh cinta.

“Kadang aku pengin banget lepas dari hubungan ini”, ucapku lirih.

“Tapi nggak pernah bisa, kan?”

“Mau sampai kapan jalani hubungan yang nggak tau bakal kemana? Aku capek.”

Dia tak menjawab pertanyaanku, dia langsung memeluk tubuhku, mengecup keningku.

“Aku sayang sama kamu, jangan nangis dong.”

“Aku sedih.”

Kemudian kami tertawa, dengan cepatnya melupakan apa yang baru saja terjadi.

Hari ini, hari kelima tanpa kabar darinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s