Sama, Tak Berarti Mudah

Ada yang pernah bilang menyatukan dua hal yang berbeda itu sulit. Tapi, buat gue saat ini, menyatukan dua hal yang sama, itu yang sulit. Sifat.

Dua orang yang mempunyai sifat yang sama. Sifat egois. Bisa bersatu? Bisa, jikalau ada yang bisa mengalah. Itu menurut gue.

Mengalah, seberapa lama sih orang bisa mengalah? Sehari? Seminggu? Sebulan? Capek kaleee ngalah mulu, ah. (–,)>

Contoh; kasus gue ajalah nggak usah jauh-jauh. Udah hampir dua minggu nih gue sama masnya perang dingin, entah siapa yang salah -kayaknya sih gue. Semakin ke sini gue juga belajar, belajar mengenai sifat dia; cuek, nggak pedulian, masa bodo, nggak mau negor kalo pasangannya salah -cuma didiemin biar pasangannya peka sendiri. Heloooowww!! gue bukan cenayang.

Yap! Hampir semua sifatnya sama kayak sifat gue, mamam!!

Sekarang begini, lo bayangin aja ketika lo didiemin sama pacar, terus lo balik nyuekin dia berharap dia negor duluan, dan tanpa lo sadari dia juga berharap demikian. Bayangin woy!! Bayangin!!

Mau nyampe Fir’aun sulam alis juga lo nggak bakal pernah tegoran lagi sama dia.

Jalan satu-satunya biar bisa baikkan lagi gimana? Ya harus ada yang ngalah. Tapi kadang yang di sini udah ngalah, yang di sana tetep nggak peduli, kusedi  😦

Masalahnya, masnya diem aja nggak mau ngomong apa-apa, dan gue juga nggak tau mesti apa. Mau terus-terusan kayak gini? Nggak! Kadang gue merasa kalo gue ini nggak dipeduliin, nggak diperhatiin, mana pernah ditanya ‘lagi apa?’, ‘lagi di mana?’, ‘gimana kerjaannya hari ini?’. Nggak pernah dicariin, nggak pernah bilang kangen, dan nggak pernah ngubungin gue duluan.

Kalo gue mau nurutin ego, gue juga bakal masa bodo semasa bodonya. Nggak akan pernah ada panggilan telepon dari gue di tiap paginya. Nggak akan pernah ada chat ‘udah pulang belum?’ di tiap malamnya, dan nggak akan pernah ada dia di pikiran gue. Tapi kenyataannya yang ada bagaimana? Gue masih nelponin dia tiap pagi biar dia bisa bangun lebih awal dan nggak kesiangan sampai di kantor. Gue masih mau nanya ‘udah di rumah apa belum?’, dan dia masih selalu ada di pikran gue. Karena apa? Karena gue peduli dan lebih mementingkan hubungan ini ketimbang ego gue semata. Kan dari awal udah komit mau serius. Masalah kecil nggak usah dibesar-besarkanlah, dan stop! bersifat seperti anak kecil. #notetoself

Bukan pertama kali punya pacar yang sifatnya seperti ini, tapi masih kagol aja. Gue paham dengan sibuknya dia, tapi apa sama sekali nggak ada waktu buat ngabarin pasangannya? Waktu luang itu emang nggak ada, adanya meluangkan waktu. Pertanyaannya, mau nggak meluangkan waktu buat gue? Kalo anggap gue ini ada, kalo anggep gue ini pasangan, harusnya mau. Gue nggak butuh banyak waktu, dikit aja, dikiiittt!!

Anyway, “I choose to trust him. I choose to trust my man. Above all, I choose to believe in serendipity.”

Kenapa jadi curhat sih? Ah, bodo amat! BHAY!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s