Tahun Ketiga

Dua hari ini memori ingatanku tiba-tiba kembali memutar  cerita yang terjadi antara aku dan dia di awal-awal kami bertemu. Ingat bagaimana awalnya Ia mengajakku berkenalan, membuatku tertawa, mengajakku makan malam, mengantarku ke tempat kerja, menjemputku dari tempat kerja, dan apapun yang pernah kami lakukan bersama.

Tiga tahun yang lalu aku bertemu dengannya di tempatku bekerja. Aku bekerja di salah satu bengkel mobil di Bandar Lampung sebagai staff administrasi toko. Ia adalah salah satu pelanggan tetap di tempatku bekerja.

Aku bertemu dengannya di hari kedua aku bekerja, kalau tidak salah. Kala itu dia sedang berbicara dengan Bapak Kabag toko di depan ruang kerjaku. Aku satu ruang kerja dengan beliau. Awalnya aku tidak memedulikan sosoknya, sampai akhirnya dia menghampiriku.

“Karyawan baru ya, Mbak?”

“Iya”. Jawabku seadanya.

“Siapa namanya?”

“Wulan”

“Hati-hati di sini banyak penjahat”, ucapnya sembari tertawa.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Karena aku pun belum banyak mengenal orang-orang di lingkungan kerjaku.

Satu hal yang aku tangkap dari sosoknya, dia menyenangkan. Terlihat dari bagaimana caranya berinterkasi dengan orang lain, selalu mengundang tawa. Kesan pertama yang cukup baik dariku, tentunya.

Hari-hari berikutnya kau lebih sering berinteraksi dengannya, ia sering sekali mampir ke tempatku bekerja. Bukan untuk menemuiku tentunya, karena sebelum ada aku pun dia sudah sering main ke kantor. Semenjak mengenalnya aku lebih sering tertawa, tertawa setiap kali melihatnya bercanda tawa dengan teman-teman sekantorku. Aku mulai menyukainya.

Semakin hari kami semakin dekat, beberapa kali dia mengajakku untuk pergi bersamanya, tapi aku menolak. Aku masih terlalu kaku untuk bepergian dengan seseorang yang baru aku kenal. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali pergi bersamanya.

Beberapa minggu kemudian, di awal bulan Mei. Tiba-tiba dia datang ke ruanganku, duduk di hadapanku dengan raut wajah yang tak seperti biasanya.

“Mbak, nanti malam kita keluar yuk? Kita makan malem. Sekali ini aja sih, yaaa…”, ajaknya dengan penuh pengharapan.

Tidak, aku tidak lebih tua darinya, tapi dia memang sering memanggilku seperti itu. Awalnya aku sempat menolak, tapi dia terus membujukku hingga aku meng-iya-kan ajakannya tersebut.

Seketika raut wajahnya berubah semringah. Aku senang melihat senyum itu terbentuk di wajahnya.

“Oke. Nanti malam aku jemput jam tujuh, ya?”

Aku hanya mengganggukkan kepala tanda meyetujui.

 ***

Selepas sholat maghrib, aku berbaring di tempat tidurku.

The best thing about tonight’s that wer’re not fighting

Could it be that we have been this way before

I know you don’t think that I am trying

I know you’re wearing thin down to the core

Ponselku berbunyi.

Kuraih ponselku, dan segera menjawab panggilan tersebut.

Kudengar suara di seberang telpon.

“Aku udah di jalan, kamu siap-siap, ya?”, pintanya.

Aku segera mempersiapkan diri, tak lama kemudian kudengar suara mobilnya telah sampai di depan rumahku.

***

Dia mengajakku makan malam di sebuah restoran yang terletak di atas bukit, memilih meja di dekat balkon. Cahaya lampu kerlap-kerlip, desiran suara angin layaknya orang berbisik, di kejauhan juga terlihat hamparan laut dengan cahaya lampu di beberapa sisi. Malam yang menakjubkan.

Dengan suasana yang seperti itu tak lantas membuatnya jadi sosok yang berbeda. Dia tetap menjadi seorang lelaki yang humoris, kerap kali ia membuat ku tertawa karena celotehannya.

Usai makan malam, ia mengajakku keluar dari restoran. Dia menuntunku, mengajakku melihat suasana malam dari atas bukit. Entah disadari atau tidak, tiba-tiba saja di merangkul tubuhku. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda yang aku rasakan, seketika aku merasa tenang dan nyaman.

Karena sudah cukup malam, dia mengajakku pulang. Sesampainya di rumah, dia kembali mengucapkan terima kasih karena aku telah bersedia menemaninya makan malam. Sebelum ia pamit pulang, ia mecium keningku. Manis sekali.

***

Tidak lama setelah malam itu, ayahku masuk rumah sakit. Ada kecelakaan kecil yang terjadi ketika ayahku sedang merenovasi rumah. Beberapa hari aku tak masuk kerja, dan tidak berkomunikasi dengannya.

19 Mei 2016, ayahku mengalami koma. Dua puluh empat jam tak sadarkan diri, hingga akhirnya beliau dijemput oleh utusan yang Maha Kuasa.

Keesokan harinya setelah pemakaman ayahku, ketika aku sedang menyambut kedatangan teman-temanku aku melihat sosok seorang lelaki yang tidak asing bagiku. Dia duduk di sebelah pamanku, melemparkan senyumnya ketika aku melihatnya. Aku tak menyangka dia akan hadir di saat aku sedang berduka, segera aku menghampirinya.

“Dari kapan di sini?”, tanyaku.

“Dari tadi, aku ikut ke makam tapi aku di belakang.”

“Tadi orang kantor juga ke sini, bareng sama mereka?”

“Enggak, mereka duluan.”

“Aku ke dalam dulu sebentar, ya? Ada temen-temen soalnya.”

“Iya”, lagi lagi dia menjawab disertai senyumnya.

Ketika aku sedang berbincang dengan teman-temanku, dia datang menghampiri. Ia pamit pulang, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Malam harinya, aku mendapat pesan darinya yang berisi;

‘Kalo kamu butuh apa-apa, bilang sama aku ya. Mulai hari ini aku yang akan tanggung jawab atas kamu.’

Setelah malam itu, aku lebih sering bersamanya. Terkadang saat aku sedang libur bekerja, aku menemaninya berkegiatan, tak jarang pula aku menemaninya ke luar kota untuk mengontrol pekerjaan yang sedang ia tangani.

Saat ini memasuki tahun ketiga aku mengenalnya, aku bersamanya, walaupun hubungan kami sudah tak seindah dulu. Sudah terlalu banyak hal yang berubah, kami tak lagi sering menghabiskan waktu bersama, kami tak lagi banyak berbagi cerita, tak lagi banyak berbagi tawa, tapi kami masih (sering) bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s