Nggak Ada yang Selamanya

Belakangan ini gue sering banget dapet kabar mengejutkan, sebuah kabar yang bikin gue seneng dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Tapi kabar yang baru gue terima kemarin sore lebih banyak sedihnya. Gue belum tau pasti benar atau enggaknya, tapi feeling gue mengatakan that’s right and now, I feel so broke.

Apa yang membuat gue sebegitu sakitnya mendengar kabar itu? Sementara gue tau, itu bakal datang dan bakal terjadi.

Selama ini gue sering menyangkal apa-apa yang terjadi sama gue. termasuk dalam urusan hati. Gue sering menyangkal kalo gue sedang jatuh cinta sama seseorang, sampai gue merasa kalo gue bakal kehilangan orang itu.

Bukan tanpa alasan gue bersikap seperti itu, justru gue seperti itu karena gue tau he’s not mine, and never be mine.  Salahnya gue, bukannya mencegah perasaan itu untuk terus tumbuh tapi malah gue pupuk biar makin subur. Kalo diibratkan pohon, pohon yang seharusnya bisa gue cabut gitu aja sekarang malah harus gue tebang, ya, karena pohonnya sudah terlalu besar.

Ini bukan cinta, ini hanya rasa yang tercipta karena sering bersama. We are friend, just friend! dan benar aja nggak ada pertemanan antar wanita dan lelaki yang tanpa melibatkan perasaan. Mau sekecil apapun itu tetap pasti ada.

Gue bukan tipe wanita yang mudah cocok dengan orang lain, temen gue nggak banyak. Di antara teman itu pun masih masih ada circle lagi, mereka yang benar-benar bisa gue ajak cerita apa aja, mereka yang benar-benar mengerti dan paham sama gue, termasuk dia.

Nggak mudah untuk dapat seorang seperti mereka, mereka yang bisa membuat gue jadi diri sendiri. Bukan pertama kalinya ini terjadi, dan nggak cuma terjadi sama teman cowok aja. Gue pernah sebegitu sedihnya ketika gue denger sahabat gue mau menikah sama cowoknya. Gue cemburu, gue cemburu kalo orang yang deket sama gue bakal sama orang lain. Gue merasa ditinggalin, gue takut kalo nantinya mereka akan berubah, mereka nggak selalu ada lagi buat gue, mereka akan lebih mementingkan kehidupan barunya.

Salah! Jalan pikiran gue yang seperti itu salah, gue sadar itu. Tapi itu yang beneran gue rasain.

Ternyata gue nggak sekuat yang gue tunjukkin, gue nggak semandiri yang orang-orang liat. Gue selalu butuh mereka di samping gue, gue butuh support mereka, gue butuh mereka untuk dengerin cerita-cerita gue.

Memang ngggak ada yang selamanya di dunia ini. Sekalipun mereka bilang, kita akan tetap seperti ini, walaupun mungkin akan ada perubahan-perubahan kecil. Itu yang gue takutin, gue takut nggak bisa nerima perubahan itu.

“Aku akan tetap seperti ini, kamu masih bisa cerita apa aja sama aku. Aku masih bisa temenin kamu makan siang, walaupun nggak sesering saat ini.”

Gue sedih, sedih banget denger kalimat itu. Hal-hal yang biasa dilakuin sama-sama berangsur-angsur akan hilang. Terus kalo semuanya hilang, gue mesti ngelakuin itu sama siapa?

Dua tahun belakangan dia selalu sama gue, walaupun cuma ketemu delapan jam dalam sehari, enam hari dalam seminggu.

Dia pernah bilang, ‘suatu saat kamu pasti bakal jaga jarak sama aku’. Gue udah paham maksudnya, bahkan segala gerak-geriknya kebaca sama gue, cuma dia masih nutupin semuanya. Ketika gue tanya kenapa nggak cerita, dia cuma jawab ‘aku belum sanggup mau cerita’.

Kenapa sih seneng banget bikin gue nebak-nebak sendiri? Sampai saat inipun gue belum dapet konfirmasi secara langsung tentang kabar mengejutkan itu. Semoga aja sih ini cuma mau ngerjain gue karena bentar lagi April Mop, hahahaaa…. Tapi sepertinya tidak.

Gue cuma belum puas aja, karena gue belum dengar secara langsung dari yang bersangkutan. Gue marah, marah karena dia menutupi sesuatu yang penting dari teman dekatnya yaitu gue. Dia pasti punya alasan sih kenapa dia menyembunyikan itu, karena dia terlalu paham bagaimana sifat gue.

Apapunlah itu, kejadian-kejadian kayak gini mengingatkan gue bahwa nggak ada yang selamanya di dunia ini, teman, pacar, orangtua, suami, istri, akan ada saatnya semua akan meninggalkan kita.

Gue udah sering ditinggalin, tapi tetap aja nggak biasa. Tetap shock, tetap pengin ngamuk-ngamuk, dan tetap merasa galau pastinya. Untuk kasus ini bukan ditinggalin juga sih sebenernya, tapi apa ya? hmm..

Gue berharap apapun yang kalian jalani nantinya, bersama siapapun itu semoga selalu diliputi kebahagiaan. Terima kasih karena udah mau jadi teman gue selama ini, terima kasih karena sudah mengerti segala kelabilan emosi gue, dan juga maaf karena terkadang gue terlalu egois.

Suatu saat nanti, gue yakin bakal bertemu seseorang seperti kalian lagi yang juga akan menjadi teman, teman hidup tapinya. Amiiinn…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s