Satur(ated)day

Sabtu, 15 April 2017

Kadang gue suka nggak ngerti sama diri gue sendiri, sebentar gue seneng, sebentar gue sedih. Pergantian mood gue ini nggak bisa dipredikasi, kacau parah.

Bagi orang-orang yang nggak paham sifat gue, mungkin mereka akan menganggap gue ini aneh. Pagi hari gue bisa tertawa terbahak-bahak, siangan dikit bisa nangis sesegukan.

Seperti hari ini.

Gue berangkat kerja agak siangan dikarenakan gue harus menghadiri undangan pernikahan dari salah satu teman. Sebenarnya sih gue bisa aja izin buat nggak masuk kerja sekalian, tapi ya mau ngapain juga sih di rumah?

Sampai di kantor selepas makan siang, sempet bete karena begitu sampai kantor malah mati listrik. Iya, gue tipe manusia yang gampang bete. Gimana nggak bete, niat gue ke kantor kan mau nyicil kerjaan yang numpuk gara-gara komputer gue kemaren rusak dan file kerjaan gue ilang semua. Harus ngulang dari awal, sabaaarrr!

Semua terasa baik-baik saja selama di kantor hari ini, ketawa sama temen-temen, ceng-cengan tim bola sama Ay, pokoknya banyak ketawa deh.

Tapi semua berubah ketika malam tiba.

Ketika malam telah tiba, aku menyadari kau takkan kembali…

Malem ini gue ngerasa sepi, sendiri. Beberapa hal yang dari kemaren berusaha untuk gue singkirkan dari pikiran tiba-tiba datang menyeruak, bawa temen-temen lamanya pula.

Gue ngerasa sedih, sedih banget pokoknya mah.

Belakangan ini, gue selalu menyingkirkan hal-hal yang sudah terjadi. Lebih tepatnya sih meniadakan kejadian itu, menganggap yang sudah terjadi itu hanya fiktif, nggak beneran. Walau di sisi lain, gue tetap meyakini semua itu nyata adanya.

Gue cuma belum rela, belum sepenuhnya bisa menerima apa yang terjadi. Maka dari itu gue halu, gue masih menganggap semuanya masih sama seperti sebelumnya.

Gue sadar ini terlalu egois, cuma menyakiti diri sendiri.

Berawal ketika gue menghadiri acara pernikahan temen gue tadi siang, bukan temen sih tapi mantan. Duduk agak lama di bangku undangan, memperhatikan siapa yang ada di bangku pelaminan. Ingatan gue flashback ke enam tahun silam.

“Aku udah punya ancang-ancang buat kedepannya. Tahun ini mulai masuk kuliah, kuliah paling cepat empat tahun, setelah itu kerja, nabung, Insha Allah kebeli rumah dan mobil. Kalo usia 25 tahun sudah terpenuhi semua, aku baru mau menikah.”

Ucapan enam tahun lalu, rencana yang dia bagi bersama gue. Dia lelaki yang selalu punya rencana.

Gue seneng karena rencana dia akhirnya terwujud, walaupun mewujudkannya bukan dengan gue. Gue cuma pernah jadi bagian dari rencana itu, dulu.

Gue tersenyum getir melihatnya, dalam hati gue berucap;

“Semoga bahagia yang kamu rasakan hari ini, juga bisa saya rasakan entah dengan siapa nantinya. Terima kasih karena pernah menjadikan saya bagian dari kamu.”

Air mata gue masih tertahan, gue langsung buru-buru pergi dari acara itu. Mau selama apapun berlalu, tetap aja ada bagian yang sulit untuk dilupakan.

Tapi yang paling bikin gue sedih malam ini, bukan itu. Itu hanya sebagian kecil yang ikut mencampuri.

Nggak tau sebab pastinya apa, tiba-tiba gue nangis sendirian di kamar.

Mungkin memang ada perasaan belum rela, tapi apa yang belum gue relain?

Atau mungkin gue memang sudah rela, hanya saja belum ikhlas?

Sebenarnya apa yang salah dari diri gue?

Apa gue terlalu egois?

Apa gue terlalu halu?

Iya, mungkin gue terlalu halu. Gue sering membayangkan hidup yang sempurna. Gue selalu mengarang cerita di otak gue sesuai dengan apa yang gue mau.

Gue selalu membayangkan apa yang gue mau ya bakal jadi milik gue, sekalipun itu sudah dimiliki orang lain. Saat ada atau sedang bersama gue, ya itu punya gue. Gue nggak pernah rela apa yang gue punya atau yang dekat dengan gue jadi milik orang lain.

Iya, gue memang se-egois itu.

Makanya gue selalu menganggap orang lain yang memiliki ‘itu’ nggak ada, karena ‘itu’ ya punya gue.

Ini cukup menyedihkan.

Ternyata gue sebegitu egoisnya, sebegitu batunya, pantes aja sering kecewa. Ekspektasi gue ke orang-orang terdekat begitu tingginya, jadi ketika mereka berbuat sesuatu yang nggak pernah gue pikirin, gue langsung down. Gue insecure, gue posesif, termasuk dalam hubungan pertemanan.

Teman gue nggak banyak, bahkan yang gue anggap benar-benar teman kurang dari lima orang. Selebihnya gue hanya menganggap teman yang sekedar kenal, dan pernah ngobrol. Karena, walau sering maen atau jalan bareng juga belum tentu paham sama sifat gue.

Entah memang gue yang nggak bisa bergaul, gue yang terlalu pemilih, atau memang gue tidak terpilih untuk berteman atau dekat dengan mereka?

Sering gue melihat beberapa orang wanita yang sering kumpul bareng-bareng, terlihat begitu akrabnya. Kenapa gue nggak pernah bisa seakrab itu dengan para wanita?

Dari dulu, dari jaman gue masih duduk di bangku TK gue nggak pernah punya teman cewek. Ada cewek yang nakal, sering jailin gue, sering melototin gue, ya gue takut dong, jadinya gue males temenan sama cewek-cewek.

Pas SD, teman gue yang cewek paling ya cuma Maudy. Sisanya cowok semua. Kalo nggak salah dulu ada enam orang yang sering maen bareng, dua cewek, empat cowok, kadang cowoknya lebih dari itu.

SMP, kayaknya gue nggak punya teman deket cewek. Sama cowok mulu. SMP tuh jamannya genk-genk-an gitu, segerombolan cewek-cewek sok eksis nan berisik yang bikin gue sebel banget liatnya.

SMA, teman gue yang cewek cuma Cety. Itu yang paling deket sama gue, tiga tahun sebangku. Tapi udah lepas SMA ya udah, jarang komunikasi.

Maudy, dia ini teman sekaligus sepupu gue yang sampe sekarang masih awet. Walaupun jaman SMP dan SMA sempat berjarak dikarenakan beda sekolah. Entah hal apa yang tiba-tiba bikin kita kembali bersama, tsealaaah.

Memasuki dunia kerja, gue selalu berteman dengan para lelaki. Gue selalu lebih nyambung ngobrol sama mereka ketimbang ngobrol sama cewek-cewek. Gue selalu bisa jadi diri gue sendiri, tanpa harus sok jaga image. Gue selalu bisa curhat apa aja tanpa takut mereka membocorkan rahasia gue.

Tapi tetep aja, nggak semua cowok juga bisa cocok sama gue. Nggak semua orang sepemikiran sama gue.

Gue berteman dengan mereka yang bisa membuat gue merasa nyaman. Bisa mengerti absurd-nya gue -tanpa berpikiran kalo gue ini aneh-, yang mau mendengarkan gue, bukan yang maunya cuma didengerin aja tanpa mau dengerin balik.

Wajarkan kalo teman gue nggak banyak? Karena nggak semua orang mau timbal balik, dan kebanyakan pertemanan sekarang ini fake!

Teman yang beneran teman selalu tau apa yang sedang dirasakan temannya, sekalipun temannya itu nggak cerita. Dia akan tau apa sedang kita sembunyikan. Dia mungkin nggak akan tanya kenapa, karena dia tau kita akan cerita ketika kita siap untuk menceritakannya. Dia nggak akan pura-pura peduli dengan melontarkan pertanyaan ‘kenapa?’ sembari memaksa kita untuk bercerita.

Dia akan menegur kita ketika kita salah tanpa terkesan menggurui. Dia ada saat kita senang maupun sedih, orang yang selalu kita cari ketika kita merasa dunia sedang memusuhi.

Saat ini teman masih ada buat gue dan gue berharap selalu ada adalah Maudy, dia yang paling tau aib-aibnya gue,

dan Ay. Do’i sih belum lama-lama banget deket sama gue, baru sekitar dua tahunan, but he know me so well.

Walaupun gue masih nggak percaya dan nggak nyangka kalo si Ay udah jadi milik orang lain, tapi dia masih tetap ada buat dengerin rengekan-rengekan gue.

Terima kasih ya kalian, you’re my best!!

Setiap gue merasa otak gue sumpek banget, dengan mereka berdualah gue berbagi kesumpekan itu.

Wait? Sumpek itu bahasa apa sih?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s