Kepada Ia yang Pergi Lalu Datang Lagi

Beberapa hari yang lalu gue baru aja jajan buku baru, judulnya “Seperti Bianglala” yang ditulis oleh Galih Hidayatullah. Sebelumnya gue udah sering juga baca blognya. Ada satu tulisan di blognya itu yang jadi favorit gue, dan ternyata ada di buku terbarunya ini. Judulnya;

Kepada Ia yang Pergi Lalu Datang Lagi

“Hati bukan persinggahan untuk tinggal lalu tanggal. Sebab perasaan tak pernah sama lagi semenjak ada kau.”

Ini tentang kau yang pergi dan setumpuk bahagia yang kau bawa lari. Lalu tiba-tiba kau kembali lagi sebelum lukaku sempat lupa bekasnya.

Ini tentang kau yang menjauh. Bergeming saat melihatku mengaduh. Berjalan meninggalkanku di belakang dengan derap langkah yang cepat, bahkan untuk menoleh pun tak sempat.

Ini tentang kau yang kembali datang dengan wajah tanpa dosa, seolah segala luka yang kau cipta hanya perkara sementara dan tak pernah ada.

Ini tentang aku yang sibuk mengatur debar. Detak yang berdegup gugup merapikan harapan. Dada yang kembang kempis memaikan perasaan. Masih ada marah tersisa sebenarnya. Namun hati tak bisa berdusta untuk merasakan rindu yang selalu menang lebih dulu.

Ini tentang aku yang kelimpungan menghadapi gejolak perasaan. Sekeping hati menginginkan pergi, sebagian yang lain menyuruhku bertahan.

Ini tentang kau yang merusak segala pertahanan yang kubuat. Perihal hati yang lagi-lagi gamang karena tak tahu bagaimana memaknai sebuah kedatangan. Karena kau tak perlu lagi kembali jika hanya untuk mengucap selamat tinggal.

Tak ada yang hilang dari ingatan sebagaimana abadinya sebuah kenangan. Luka tak akan lupa bagaimana rasa sakitnya sekalipun setiap bekasnya telah hilang tanpa tersisa dendam.

Cinta bukan permainan untuk datang lalu hilang. Pergi dan janganlah kembali, hatiku terlalu memesona jika hanya untuk kau buat terluka, Aku mandiri dengan segala hakku untuk berbahagia.

Kepada kau pencipta resah. Enyahlah, biar reda luka mendera. Biar musnah duka-duka lara. Enyahlah sudah!

Dari pertama kali gue baca judul itu di blognya Galih, gue langsung tertarik isinya seperti apa. Setelah dibaca, kayak baca kehidupan gue sendiri. Tentang seorang yang pergi dan datang semaunya.

Saat ini, gue mau orang itu benar-benar enyah dari hidup gue. Jangan pernah kembali lagi.  Jangan pernah menampakkan diri di depan gue.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s