Kebiasaan yang Salah

Sejak kita masih kecil, kita pasti sudah diajarkan kedisiplinan. Mulai dari lingkungan keluarga (rumah), maupun lingkungan sekolah. Belajar bangun pagi biar sekolahnya nggak terlambat, karena kalo terlambat bisa dihukum sama Bu Guru. Begitupun ketika sudah memasuki dunia kerja, sebuah keterlambatan bisa menjadi tolak ukur keprofesionalan (bener nggak sih bahasanya?) pokoknya begitulah.

Dari dulu gue paling nggak suka sama yang namanya terlambat atau bahasa kerenya nggak on time, dan gue rasa nggak cuma gue sih yang begitu. Di mata gue, orang-orang yang suka banget terlambat itu bakal minus banget. Sekali dua kali masih gue maklumilah, tapi kalo udah keseringan mah emang dasar dianya aja.

Kadang mereka beralasan ada sesuatu hal yang harus dikerjakan sehingganya mereka terlambat. Tapi kalo itu dilakukan berulang kali, berarti merekanya yang nggak bisa me-manage waktu. Segala sesuatu itukan harus ada perhitungannya.

Gue, dari jaman sekolah dulu jarang banget atau nggak pernah yang namanya terlambat. Masuk sekolah jam tujuh, sebelum jam tujuh gue udah sampe di kelas. Begitupun kalo janjian sama orang, misal janjian jam delapan ya sebelum jam delapan gue udah siap. Bukan yang janjian jam delapan, jam delapan baru mau siap-siap, hh! Gue nggak suka nunggu, makanya gue nggak mau bikin orang nunggu.

Nggak jarang juga sih gue sampe ketiduran karena nungguin orang yang ngajak janji ketemu atau pergi bareng. Akhir-akhir ini malah sering gue batalin karena datangnya nggak sesuai dari waktu yang ditetapkan.

Menghargai waktu, itu hal yang paling mendasar banget sih menurut gue. Kita bisa menilai kepribadian orang lain dengan melihat bagaimana caranya menghargai waktu.

Dua tahun belakangan ini, gue sering kali dibuat geram dengan kebijaksanaan -yang sebenernya nggak bijak- dari perusahaan tempat gue bekerja. Ya gimana nggak ya, seperti yang gue bilang sebelumnya biasanya orang yang terlambat yang di hukum, ini mah kebalikannya. Orang-orang yang dateng pagi malah di suruh berdiri di lapangan nungguin yang datengnya terlambat. Gue nggak ngerti deh, ini peraturannya yang salah atau otak yang bikin peraturan yang salah?

Gue sebagai salah satu yang dateng pagi jelas keberatan dong. Alasannya, biar yang dateng terlambat itu malu karena mereka sudah membuat teman-temannya menunggu. Enak juga kalo yang terlambat ini punya malu, punya kesadaran diri,  lah ini boro-boro punya malu, punya kesadaran diri, gue rasa otaknya geh ditinggal di rumah disimpen di bawah kasur.

Parahnya lagi, kejadian seperti ini masih terus berlangsung. Mereka yang disuruh nunggu cuma ngedumel aja, tapi nggak mau gerak atau berontak kek, protes. Gue sih udah bebrapa kali coba menentang ini, kalo mau dilaporin sama bos ya silahkan gue nggak takut. Gue punya alasan kenapa gue mau nunggu mereka yang terlambat itu.

  1. Memangnya mereka itu siapa? Punya kedudukan setinggi apa sehingganya gue harus nungguin mereka setiap hari sambil panas-panasan. Berapa yang mau mereka bayar untuk mengganti waktu gue yang terbuang percuma?
  2. Waktu yang dipake buat nunggu mereka, mending gue pake buat nyicil kerjaan biar cepet kelar.
  3. Yang ditungguin juga nggak sadar-sadar kalo sifat mereka itu memalukan.
  4. Bego aja gue kalo harus terus-terusan ngikutin kebiasaan yang salah kayak gini.

Kalo pun ada yang harus panas-panasan berdiri di lapangan kan ya harusnya mereka yang terlambat itu, bukan kita-kita yang dateng pagi-pagi!! Gue sering banget menggerutu, ‘kalo kayak gini mah mending gue dateng siang juga, percuma dateng pagi’, tapi ya tetep nggak karena gue terbiasa dateng pagi. Sampe lima menit sebelum jam masuk aja gue udah berasa kesiangan banget, tapi mereka yang berangkat setengah jam setelah jam masuk bisa santai banget.

Sebenernya sih di sini ini udah banyak salah, nggak cuma masalah kedisiplinan aja. Itu menuru pengamatan gue, semuanya carut marut, banyak yang mesti dibenahi. Salah satunya ya kebiasaan menunggu yang terlambat tadi. Gue cuma karyawan biasa di perusahaan ini, nggak punya andil besar untuk membuat semuanya seperti yang gue mau. Karyawan di sini cukup banyak, dan gue rasa banyak yang sepemikiran dengan gue, hanya saja mereka bukan nggak mau ngasih pendapat atau saran, tapi di sini ada beberapa pihak yang nggak mau menerima saran dan pendapat. Karena menurutnya, mereka itulah yang paling benar.

Sejujurnya, gue seneng sih bisa jadi bagian jadi keluarga di perusahaan ini. Gue suka sama temen-temennya, ya walaupun nggak sedikit juga di sini yang nggak gue kenal (re; nggak mau kenal), hehee.. Aneh nggak sih satu lingkungan kerja, tapi gue mau kenal sama sebagian orang itu? Cuma tau nama doang.

Terlalu banyak hal yang sering buat gue mikir, ‘apaan sih ini?’, banyak hal yang menurut gue percuma tapi tetep dijalanin di sini. Dan satu lagi, di sini banyak yang PALSU.

Kekeluargaan. Katanya sih perusahaan ini menjunjung tinggi kekeluargaan. Apaan? Nungguin orang terlambat tiap hari sambil panas-panasan itu disebut kekeluargaan? Mau diliat kalo saling (sok) peduli? Kalo gue sih males, kalo peduli mah ya peduli aja. Tapi kalo nggak, ya gue tunjukkin kalo gue emang nggak peduli. Itu lebih baik dari pada gue harus pake topeng kepalsuan.

Dulu mungkin iya, tiga tahun yang lalu baru-barunya gue masuk perusahaan ini. Saat itu gue masih merasakan yang namanya kekeluargaan, tapi sekarang semua udah berubah, udah tak sehangat dulu lagi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s