Maaf

Aku selalu mencoba untuk terlihat baik-baik saja, meski nyatanya pikiran dan hatiku diliputi cemas. Sekuat apapun usahaku untuk mengalihkannya, pikiranku selalu menujumu.

Aku sengaja untuk mengabaikanmu, pura-pura tak melihatmu meskipun kau berada tepat di hadapanku. Pura-pura tak mendengarmu saat kau memanggil namaku. Namun, taukah kau seberapa kuat usahaku untuk melakukan itu? Seberapa kuat aku menahan air mata agar tidak jatuh ketika berhadapan denganmu?

Bukan tanpa alasan aku bersikap seperti itu, aku hanya ingin mengakhiri hubungan yang memang sudah seharusnya diakhiri. Hubungan yang kita tau dengan jelas akan berakhir seperti apa.

Aku tak pernah berusaha untuk melupakan apapun yang pernah kita lalui, aku hanya membiarkan semuanya berlalu. Aku masih sering mengingat-ingat apa saja yang pernah kita lakukan bersama, asal kau tau aku bahagia ketika mengingatnya.

Kadang aku berharap agar Tuhan memberiku waktu sedikit saja untuk kuhabiskan bersamamu, untuk mengulang yang pernah ada sebelum akhirnya kita harus benar-benar terpisah.

Tak ada yang benar-benar aku benci dari dirimu, satu-satunya yang kubenci adalah kenyataan bahwa kita tak bisa bersama.

Pertemuan kita bukanlah sebuah kesalahan, aku yakin Tuhan punya rencana lain dibalik pertemuan kita. Terutama untukku yang tak bisa semaunya menjatuhkan hati.

Untukmu;

Terima kasih karena pernah menyayangiku dengan sungguh walau tak utuh.

Jauh di lubuk hatiku, namamu  akan selalu ada. Kisah tentang kita masih nyata bekasnya, biarlah waktu yang perlahan memudarkannya.

Maaf, karena dengan cara seperti ini aku pergi.

 

Sebuah Renungan Menjelang Ramadhan

Jaman sekarang ini, gue perhatikan manusia itu lebih takut dan lebih patuh sama yang ngasih mereka gaji bulanan ketimbang sama yang ngasih mereka hidup. Iya nggak sih? Atau cuma perasaan gue doang?

Pagi ini entah apa yang membuat gue tiba-tiba memikirkan itu, gue lagi duduk di depan cermin sambil bedakan tapi di otak gue muncul pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Sebagai contoh:

Di lingkungan kerja gue, para karyawan dilarang merokok saat jam kerja. Tapi dari mereka kebanyakan masih aja pada bandel, masih pada ngerokok sambil nyumput-nyumput. Udah dipasang CCTV, ya tetep aja nyari tempat yang nggak kejangkau sama CCTV. Coba deh kalo ketauan terus disuruh pada ngerokok depan bos, pasti pada takut. Mereka melanggar tapi takut kalau ketauan sudah melanggar.

Sekarang kita ambil contoh yang lain.

Besok sudah memasuki Bulan Ramdadhan. Larangan di Bulan Ramadhan itu salah satunya; dilarang makan dan minum di siang hari. Tapi masih banyak juga lho yang melanggar. Diam-diam makan dan minum, takut ketauan temen yang puasa, malu. Sama temen malu, sama Allah nggak malu? Nggak takut?

Mau makannya diem-diem, nyumput di warung makan yang ditutup hordeng berlapis-lapis juga tetep aja, Allah itu Maha Melihat lho.

Melanggar peraturan yang dibuat manusia suka was-was, takut kalo ketauan, tapi melanggar peraturan yang dibuat Allah kok kayaknya anteng-anteng aja ya? padahal udah jelas pasti ketauan.

Dapet perintah dari atasan sigap banget langsung berangkat, langsung dikerjain, tapi denger adzan perintah sholat yang jelas-jelas perintah dari Allah suka diulur-ulur, bahkan diabaikan. Astaghfirullah…

Banyak orang yang berlomba-lomba ingin terlihat baik di depan atasannya, ini biasanya banyak di kantoran nih. Pada nggak kepengin apa keliatan baik juga di hadapan Allah yang Maha Segalanya?

Pasti pada kepengin sih, tapi ketika melakukan suatu kebaikan banyak orang tetap merasa nggak puas kayaknya kalo cuma Allah aja yang tau. Semua orang harus tau. Gue pribadi pun kadang pengin kok orang lain tau tentang kebaikan apa yang udah gue lakukan. Pengin kayak orang-orang gitu, kalo lagi puasa sunnah pas adzan maghrib update statusnya ‘Alhamdulillah buka puasa’, abis sholat update ‘Alhamdulillah tiga rakaat’ gitu. Tapi gue takut, takut jadi riya’ terus ibadah gue malah nggak diterima.

Sering ada yang begitu, iya sih mungkin itu ungkapan syukur mereka, tapi gue bacanya risih. Bukannya gue iri, yang ada dipikiran gue adalah, ‘Apakah semua orang wajib tau apa yang telah atau baru saja ia lakukan?’ dan lebih jahatnya lagi gue malah mikir, ‘Baru pertama kali sholat ya? Baru pertama kali puasa? Ha?’

Dosa nggak sih gue bahas hal kayak gitu? Hal yang sudah membuat gue risih. Pikiran orang emang beda-beda sih, dan gue merasa pikiran gue ini beda banget, terlalu kritis, gampang  nge-judge. Semua bisa gue komentarin, tapi nggak semua gue ungkapin, cukup dalam hati aja ketawanya. Kecuali untuk temen deket, kalo gue melihat di dirinya ada yang bikin gue risih ya gue ungkapin.

Menjelang Ramadhan ini, coba diperbaiki lagi arah pikirannya, khususnya buat gue sih ini. Pikirin yang positif aja, yang nggak bikin iri dengki hati. Kurang-kurangin nyakitin orang, kurang-kuranginlah bikin orang nyaman lalu pergi tanpa alasan. Perbaiki lagi ibadahnya, banyak-banyak minta ampun sama Allah. Dosa lo tuh banyak, Mbull!!

Selamat Puasa semuanya, Marhaban Ya Ramadhan…

 

Mari Move On a.K.a Hijrah

Aku ingin begini, aku ingin begitu

Ingin ini ingin itu banyak sekali

Semua semua semua dapat dikabulkan

Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib usaha dan doa

Kantong ajaib cuma ada di cerita fiksi Doraemon

~~~

Makin hari makin banyak aja keinginan gue. Pengin punya kerjaan yang lebih baik biar bisa kebeli rumah, kebeli mobil, kebeli gayanya orang-orang yang selangit itu. Pengin sekolah lagi biar lebih pinter, biar nggak dibodohin dan diboongin terus sama kamu. Pengin punya pacar, biar bisa nikah tahun ini, Amiiinn….

Awalnya cuma kepikiran pengin punya jodoh yang baik, tapi gue juga mikir kalo mau yang baik ya guenya juga mesti baik.

Mau punya jodoh yang mapan, ya gue juga mesti mapan. Maka gue pengin punya kerjaan yang lebih baik

Mau punya kerjaan yang lebih baik, gue mesti pinter dan punya skill. Maka gue pengin sekolah lagi. Gue sadar kalo gue nggak pinter-pinter amat, hahaa…

Untuk mewujudkan semua itu, ada beberapa hal yang mesti gue tinggalin mulai dari sekarang, terutama hal-hal yang berdampak buruk bagi masa depan gue.

Kalo kata Ust. Tengku Hanan Attaki, kalo kita ingin memulai sesuatu yang baik, mulailah dengan meninggalkan dosa. Satu itu aja dulu. Tinggalkan dan jangan pernah disentuh lagi.

Sering juga gue denger, kalo mau memperbaiki hidup mulailah dari perbaiki sholatnya. Jadi, kalo lo melihat seseorang jadi rajin banget sholatnya, mungkin dia sedang dalam tahap memperbaiki hidupnya.

Gue ini orangnya angot-angotan banget, kalo lagi rajin, ya rajin banget. Kalo lagi males, naudzubillah! Diomongin juga geh cuma di-iya-in aja, tanpa dilaksanakan. Dan itu dalam hal apapun, bukan cuma dalam hal ibadah doang. Itulah sulitnya hidup tergantung mood.

Usia segini baru mau memperbaiki semuanya? Telat!

Nggak! Nggak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik.

~~~

Tahun ini banyak orang yang mengusik gue dengan masalah pernikahan. Saking keselnya gue sama mereka, kalo mereka udah ngomongin masalah pernikahan di depan gue, gue pura-pura nggak denger, bahkan gue menganggap mereka nggak ada.

Atau pengin banget gue jawab begini;

Jangan tanya “KAPAN NIKAH?”. Karena saya juga penasaran “KAPAN?”

atau bawain aja jodohnya “KALI AJA COCOK!!”

Gue udah bosen banget dengernya, bahkan gue udah bosen juga cerita seberapa keselnya gue ketika disodorkan pertanyaan seperti itu.

Semakin gue ditanya dan didesak untuk menikah oleh orang-orang -yang bahkan nggak bakal berkepentingan dalam pernikahan gue nanti- semakin gue males untuk memikirkan hal itu.

Saat ini yang gue pikirkan adalah gimana caranya gue bisa hidup lebih baik. Gue pengin memperbaiki diri. Kalo gue udah baik, Insha Allah hal-hal baik juga bakal dekat sama gue, termasuk jodoh.

Kita nggak pernah tau kapan jodoh itu datang, sama halnya dengan kematian. Hanya sebaik-baiknya diri kita, sebaik-baiknya iman dan amal kita yang perlu kita persiapkan.

~~~

Berulang kali gue patah harapan sama seseorang, lebih tepatnya sih sama orang-orang. Bukan cuma dalam hal asmara, tapi juga dalam hal lainnya. Gue sadar, gue udah salah menempatkan harapan gue. Karena sebaik-baiknya meletakkan harapan ya cuma sama Allah SWT.

Menaruh harapan sama makhluk Allah itu bakal banyak kecewanya, banyak patahnya. Gue banyak belajar dari hal-hal seperti itu, karena itu yang paling sering gue alami. Tapi ya namanya juga manusia, apalagi macem gue gini, nggak gampang kapok, hehee…

Sekarang di usia gue yang sudah hampir seperempat abad, gue baru mulai mikir, “Apa sih yang udah gue dapat selama ini?”

“Apa yang bisa dibanggakan dari diri gue saat ini?”

“Apa dan ke mana tujuan hidup gue ini?”

Selama ini gue cuma mikirinnya aja, tapi nggak pernah berbuat apa-apa untuk dapat jawabannya. Gue lebih sering memikirkan hari ini mau makan apa? hari ini mau ke mana?

Ketika gue mulai jenuh dengan semuanya, baru gue mulai mikir lagi. Mulai cari-cari lowongan kerjaan, dan seringnya gue down karena pekerjaan sekarang minimal pendidikan D3, apalah dayaku yang cuma lulusan SMA? Kadang nyesel juga sih nggak kuliah, ke-enakan kerja tapi duitnya abis tau ke mana, pendidikan tertunda sekian lamanya.

Gue malah berpikiran, nggak apa-apa gue nggak kuliah yang penting adek-adek gue bisa sekolah setinggi-tingginya. Bersyukur juga karena bisa bantuin nyokap nyekolahin adek-adek, perjalanan mereka masih panjang banget.

Kemaren nyokap sempet bilang, “nanti kalo ada rezeki, kamu kuliah aja lagi”. Di saat para nyokap wanita-wanita lainnya sibuk nyuruh anak gadisnya menikah, nyokap gue malah nyuruh gue kuliah lagi. Nyokap gue anti mainstream *tepuktangan*

Tapi dari situ gue malah makin semangat untuk melanjutkan pendidikan lagi. Mungkin bisa di mulai dari sini, Insha Allah tahun ini tahap perbaikan diri dimulai.

Seperti yang gue sebutkan sebelumnya, nggak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Kalopun nanti tidak seutuhnya bisa menjadi baik, setidaknya sudah mencoba dengan sebaik mungkin.

Jadi orang baik itu nggak ada ruginya. Semua itu pasti ada balasannya, nggak di dunia ya di akhirat. Berbuat baik itu anggap aja tabungan buat kehidupan nantinya.

~~~

Beberapa tahun belakangan ini, sepertinya hidup gue banyak nggak benernya. Banyak jahat sama orang, makanya gue berasa amburadul banget, suka nggak tenang, pikirannya sering jahat, tapi cuma bergulat di otak doang sih nggak sampe bener-bener kejahatan itu gue lakukan. Tapi ya tetep aja jahat sih.

“Karena semua orang adalah bajingan dengan kadanya masing-masing.” – Sudjiwo Tedjo

dan saat ini gue merasa kalo gue terlalu bajingan. Seperti uang logam, manusia juga punya dua sisi. Sisi yang baik dan sisi yang jahat. Belakangan ini gue merasa sisi jahat gue ini lebih dominan, gue mudah dengki sama orang. Kadang juga gue merasa kalo gue ini bukan gue yang sebenernya, ada saatnya gue memakai topeng ketika gue berhadapan dengan orang lain.

Gue pengin mengubah itu semua, gue pengin hidup gue nggak penuh dengan kepura-puraan. Kepura-puraan yang gue buat sendiri. Selama ini gue nggak sebaik yang kalian pikirkan. Tapi saat ini, gue ingin menjadi lebih baik dari yang kalian perkirakan.

Berbenah diri bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri. Karena kalo berbenah diri karena orang lain, nggak bakal konsisten, nggak bakal istiqomah. Gue pernah begitu soalnya, hahaaa…

Berbenah diri karena Allah SWT, biar Allah ridho, biar Allah makin sayang.

Kadang gue suka ke-pede-an. Ketika gue merasa hidup gue lagi susah, gue selalu berpikir kalo Allah lagi kangen sama gue, karena gue udah terlalu lama jauh dari Dia, terlalu sering mengabaikan panggilan-Nya, jarang memuji-Nya, jarang curhat sama Dia, dan lebih sering mengadu ke sesama Makhluk-Nya ketimbang mengadu sama Dia.

Manusia itu kadang suka gitu ya, kalo udah susah baru nangis-nangis sama Allah. Kapan lagi seneng, ingetnya cuma sama yang fana. Gue sih yang sering begini, Astaghfirullah…

Sekarang, pelan-pelan harus diubah. Mungkin akan memakan waktu yang cukup lama, karena semua butuh proses, dan tidak menutup kemungkinan akan banyak godaannya.

Kata Ust. Tengku Hanan Attaki, Allah itu menyukai hamba-Nya yang istiqomah dalam melakukan kebaikan. Sekecil apapun itu, asal istiqomah Allah suka.

Semoga kali ini gue bisa istiqomah, istiqomah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Bismillah 🙂