Maaf

Aku selalu mencoba untuk terlihat baik-baik saja, meski nyatanya pikiran dan hatiku diliputi cemas. Sekuat apapun usahaku untuk mengalihkannya, pikiranku selalu menujumu.

Aku sengaja untuk mengabaikanmu, pura-pura tak melihatmu meskipun kau berada tepat di hadapanku. Pura-pura tak mendengarmu saat kau memanggil namaku. Namun, taukah kau seberapa kuat usahaku untuk melakukan itu? Seberapa kuat aku menahan air mata agar tidak jatuh ketika berhadapan denganmu?

Bukan tanpa alasan aku bersikap seperti itu, aku hanya ingin mengakhiri hubungan yang memang sudah seharusnya diakhiri. Hubungan yang kita tau dengan jelas akan berakhir seperti apa.

Aku tak pernah berusaha untuk melupakan apapun yang pernah kita lalui, aku hanya membiarkan semuanya berlalu. Aku masih sering mengingat-ingat apa saja yang pernah kita lakukan bersama, asal kau tau aku bahagia ketika mengingatnya.

Kadang aku berharap agar Tuhan memberiku waktu sedikit saja untuk kuhabiskan bersamamu, untuk mengulang yang pernah ada sebelum akhirnya kita harus benar-benar terpisah.

Tak ada yang benar-benar aku benci dari dirimu, satu-satunya yang kubenci adalah kenyataan bahwa kita tak bisa bersama.

Pertemuan kita bukanlah sebuah kesalahan, aku yakin Tuhan punya rencana lain dibalik pertemuan kita. Terutama untukku yang tak bisa semaunya menjatuhkan hati.

Untukmu;

Terima kasih karena pernah menyayangiku dengan sungguh walau tak utuh.

Jauh di lubuk hatiku, namamu  akan selalu ada. Kisah tentang kita masih nyata bekasnya, biarlah waktu yang perlahan memudarkannya.

Maaf, karena dengan cara seperti ini aku pergi.

 

(Tak) Ingin Kusudahi

Selama ini tiap ditanya, ‘kamu sayang nggak sih sama aku?’, aku selalu diam. Bukan karena aku nggak sayang sama kamu, tapi menurutku kebersamaan yang udah kita jalani selama dua tahun ini udah cukup ngejelasin gimana sayangnya aku ke kamu.

Sekarang kalo aku yang balik tanya, ‘Kalo aku sayang sama kamu, apa yang bisa kamu lakuin untuk aku?’, kamu bakal jawab apa? Kamu juga pasti bingungkan? Aku tau posisi kamu, aku juga sadar posisi aku. Aku nggak pernah minta banyak, nggak pernah nuntut macem-macem. Kadang aku cuma pengin ngabisin waktu sama kamu aja, berdua. Sehari aja kamu jadi punya aku seutuhnya, tanpa ada yang ganggu.

Sederhana bangetkan maunya aku?

Aku inget banget kapan pertama dan terakhir kali kita ngabisin waktu berdua dari pagi sampai sore, hampir dua tahun yang lalu. Kamu jemput aku di rumah jam delapan pagi, saat itu bener-bener hari yang bisa aku nikamatin bareng kamu tanpa diganggu siapapun. Aku pengin hari itu terulang lagi, bisa?

Nggak, pasti nggak bisa kan?

Sekarang tiap kita ketemu pasti berantem, pasti. Setelah itu berhari-hari lost contact, kemudian nelpon bilang kangen, ngajak ketemu, pulangnya berantem lagi. Bisa nggak sih kalo nggak bikin aku kesel? Aku udah ngalah terus. Kamu selalu bilang aku ini sifatnya keras, dan moody, tapi kamu sendiri yang selalu buat aku seperti itu. Selalu ngulang kesalahan yang sama. Kalo aku udah marah, kamu cuma bisa bilang maaf, nggak ketinggalan kalimat andalannya;

“Aku minta maaf, aku sayang banget sama kamu.”

Aku udah bosen denger kalimat itu, tapi aku juga nggak bisa bohong kalo kalimat itu juga berhasil bikin aku senyum. Kamu emang sering banget bikin aku marah, tapi kamu juga yang paling bisa bikin aku ketawa lagi, dan kamu juga yang paling sering bikin aku kangen.

Aku nggak pernah berharap bisa sama kamu sampai seterusnya, karena aku tau itu nggak mungkin. Aku juga nggak tau sampai kapan hubungan ini bertahan. Aku cuma minta satu, buat aku seneng saat aku lagi sama kamu, buat aku supaya bisa menikmati waktu bersama kamu. Karena saat ini, aku belum ingin menyudahi hubungan ini.

 

#g

Saat ini gue sedang menjalin hubungan dengan seorang yang gue sebut Mamas, Mas #g. Sebelumnya Mamas udah pernah membicarakan mau mengajak hidup bersama tapi nggak langsung gue iyakan, karena saat itu posisi gue masih ragu untuk percaya sama ajakan dia yang tanpa basa-basi itu. Ya gimana nggak ragu, komunikasi jarang, ketemu juga nggak pernah, terus tiba-tiba dia dateng ngajak komit hidup bareng? Selisih usia gue sama Mamas juga terbilang cukup jauh. Tapi buat gue usia nggak jadi masalah.

Setelah dari ajakan itu, ada satu insiden yang bikin dia jadi agak ngejauh dan nyuekin gue, Yap! gara-gara gue salah kirim bbm, dia salah paham sama gue. Karena saat itu gue juga nggak terlalu mempedulikan dia, jadi ya gue biarin aja.

 9 Februari 2016, gue inget aja hari ulang tahunnya dia, dengan meruntuhkan segala gengsi gue ucapin dong ya sambil berharap siapa tau bisa baikan lagi, eheheee..

“Happy  your day, Mamas.. Semoga segala yang semoga lekas menjadi nyata. Bahagia terus, terus bahagia :))”

Begitulah isi chat gue ke dia, terus nggak lama dibales sama dia.

“Iya, makasih ya. Bahagianya berdua kamu :)”

dan entah kenapa pas gue baca kalimat ‘bahagianya berdua kamu’ gue langsung melting.

Nah, dari chat itu dia mulai ngebahas lagi tentang ajakan dia waktu itu. Gue mulai mikir, dia beneran mau serius sama gue? Gue mikirin ini sebulan, sampai akhirnya gue ngerasa ada yang harus gue omongin ke dia.

6 Maret 2016, gue ambil handphone untuk ngubungin dia. Menanyakan tentang keseriusan dia mengajak gue menjalin hubungan. Pokoknya malam itu, gue ama dia resmi pacaran.

Sekarang, satu bulan usia hubungan gue sama dia. Anget-angetnya sih cuma dua minggu, sisanya agak panas. Gue sama dia jarang ketemu, chat juga jarang. Gue maklum karena sibuknya dia luar biasa, kerja dari pagi sampai malem, bahkan kadang sampai larut malam. Nggak apa-apa, gue bukan nggak bisa marah tapi gue nggak mau marah.

Dia pernah bilang, kasih tau gimana kerjaan dia. Dia jelasin hari-harinya seperti apa, karena yang handle kerjaan itu dia sendiri, belum lagi kerjaan sambilan yang juga dia urusin banyak menyita waktu dia. Gue pernah sekali komplen tentang kerjaan dia yang banyak makan waktu, bukannya apa, gue cuma mengkhawatirkan keadaan dia. Gue takut dia kelelahan terus sakit, cuma itu. Nggak bisa meluangkan waktu buat gue? Nggak apa-apa.

“Udah kerjaan aku tiap hari begini. Kamu nggak suka?  Kalo nggak gini, mau hidup gimana?”

Gue nggak bisa komentar lagi, denger jawaban dia kayak gitu. Karena gue juga sadar nggak bisa bantu apa-apa. Gue cuma bisa berdoa semoga Masnya selalu dikasih kesehatan, kekuatan untuk menjalani pekerjaan dan kegiatan lainnya.

Dua minggu belakangan ini juga gue sama dia lebih nggak intens lagi komunikasi, gue akuin karena salah gue. Komunikasi sehari cuma dua kali, pagi; gue telpon dia cuma buat bangunin biar nggak telat ngantor. Malem; gue chat dia buat nanya udah pulang atau belum? Kerjaan masih banyak? Just it!

Mungkin orang bakal mikirnya hubungan macam apa ini? Gue aja kadang mikir gitu. Gue kadang bertanya dalam hati, “ini orang (mamas) beneran sayang nggak sih sama gue? peduli nggak sih sama gue?”. Tapi, semakin gue begitu gue juga semakin mikir, “kenapa pikiran gue begitu? gue nggak percaya sama dia?”

Entahlah, sejauh ini gue nggak mau punya pikiran jelek apapun tentang dia. I trust him!

Apapun yang terjadi sekarang, gue berharap ini salah satu jalan yang baik untuk kedepannya. Dia sibuk, semoga memang sibuk yang baik untuk kedepannya. Amin..

Saat ini gue cuma mau bilang, kalo gue kangen sama elo #g. Miss you so much more. I Love You :*

SEMOGA KITA SALING BAIK :))

ps: Maaf kalau terkadang aku sangat menyebalkan dan sering merengek agar diperhatikan.